Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Antara Etika bagi Para Penuntut Ilmu (2)

Foto Habib Hanif sedang mengajar di hadapan para santri Ponpes Markaz Syariah.
وَاسْتَعِدَّ بِالدَّوَاةِ وَالْقَلَمِ وَالسَّفِينَةِ لِتُقَيِّدَ مَا تَتَحَصَّلُ عَلَيْهِ مِنَ الْفَوَائِدِ . .  فَإِنَّ الْعِلْمَ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةَ قَيْدُهُ كَمَا قِيلَ :

Dan persiapkanlah tinta, pena, untuk mengikat (mencatat) setiap faedah yang kau dapat, karena ilmu seumpama hewan buruan, dan catatan sebagai tali pengikatnya, sebagaimana dikatakan dalam syair:

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ
قَيِّدْ صُيُودَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيدَ غَزَالَةً
وَتَفُكَّهَا بَيْنَ الْخَلَائِقِ طَالِقَهْ
Ilmu adalah hewan buruan dan tulisan sebagai tali kekangnya.
Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat!
Di antara kebodohan, adalah engkau capek-capek memburu rusa,
Tapi setelah itu kau lepaskan begitu saja.

وَاحْفَظْ مَا كَتَبْتَهُ ، فَلَا فَائِدَةَ مِنَ التَّقْيِيدِ مِنْ غَيْرِ حِفْظٍ ، وَلَيْسَ هٰذَا بِعِلْمٍ كَمَا قِيلَ :

Dan jagalah (hafalkanlah) apa yang sudah kau tulis. Tak ada faedahnya engkau memburu hewan namun tidak kau jaga. Itu bukanlah ilmu yang sebenarnya, sebagaimana dikatakan dalam syair:

لَيْسَ بِعِلْمٍ مَا حَوَى الْقِمَطْرُ
مَا الْعِلْمُ إِلَّا مَا حَوَاهُ الصَّدْرُ
Bukanlah ilmu (yang sebenarnya) kalau hanya dikumpulkan.
Ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang disimpan di dalam dada (dihafal).

وَإِنْ طَلَبَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكَ مِنَ الطَّلَبَةِ نَقْلَ فَائِدَةٍ مِنْ عِنْدِكَ . .  فَاحْذَرْ أَنْ تَمْنَعَهُ ، وَأَسْعِفْهُ بِذٰلِكَ ، وَلَا تَحْسُدْهُ فَإِنَّ الْحَسَدَ شُؤْمٌ ،  وَآفَةٌ لِمَا عَلِمْتَهُ مِنَ الْعِلْمِ ، ثُمَّ إِذَا أَنْهَيْتَ الدَّرْسَ . .  فَقُلْ فِي قِيَامِكَ :

Apabila ada kawanmu yang meminta menyalin faedah darimu, maka berilah dan bantulah ia! Juga, jangan suka hasut (dengki)! Karena hasut itu sifat orang jahat, dan penyakit bagi ilmu yang telah kau miliki.

Lalu, apabila engkau hendak mengakhiri belajar, maka bacalah ini di saat bangkit dari duduk:

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subhânakallâhumma Wabihamdika, Asyhadu An Lâ Ilâha Illâ Anta, Astaghfiruka Wa Atûbu Ilaik.
“Mahasuci Engkau Ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau, aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

وَقُلْ ذٰلِكَ عِنْدَ كُلِّ قِيَامٍ ، وَزِدْ : «وَصَلَّى اللّٰهُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ» .

Juga, bacalah doa tadi setiap engkau berdiri dari setiap perkumpulan. Tambahkan kalimat (di akhir), Washallallâhu ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin Wa Âlihî Wa Shahbihî Wa Sallam.

* * *

Wallâhu A'lam Bisshawâb

Dinukil dari Kitab Amalul Yaumi Wallailah (Amalan siang dan malam)
Karangan Habib Hasan Bin Abdullah Bin Umar Asy-Syathiri
Umar Abdul Aziz
Umar Abdul Aziz Hanya seorang Bloger biasa yang fakir ilmu. Alumni Ponpes Ma’had El-Wihdah, dan sekarang mengabdi di Ponpes Markaz Syariah

Posting Komentar untuk "Di Antara Etika bagi Para Penuntut Ilmu (2)"

Berlangganan