Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Tragis Santri yang Hafal Kitab Tuhfatul Muhtaj Jadi Penjual Arang

Santri yang tidak beradab padam gurunya akhirnya menjadi tukang arang di akhir hayatnya.
Dari Syeikh Muhammad Bin Ali Ba’athiyyah
Ditulis oleh : Mahasiswa Imam Shafie College, Mukalla, Hadramaut, Yaman
الْأَدَبُ قَبْلَ الْعِلْمِ
Dahulukan akhlaq sebelum ilmu.

بِالْأَدَبِ تَفْهَمُ الْعِلْمَ
Dengan akhlaq lah kamu bisa memahami ilmu.
Pada kesempatan kali ini kita akan menceritakan tentang kisah tragis dari seorang santri yang sangat pandai namun ia tidak memiliki Etika kepada gurunya sendiri. Kisah ini kita dapatkan dari guru kita, Syeikh Muhammad Bin Ali Ba’atiyah, Beliau dari gurunya Al Allamah Al Habib Abdullah Bin Shodiq Al Habsyi, Beliau dari gurunya Al Allamah Al Habib Abdullah Bin Umar Asy Syatiri sekaligus beliau tokoh yang dimaksud dalam cerita ini.

Dikisahkan di Tarim Yaman terdapat suatu pesantren yang bernama “Rubath Tarim”, Pesantren ini telah melahirkan puluhan ribu Ulama yang tersebar di seluruh dunia. Di sana para santri diajarkan berbagai macam ilmu, khususnya spesifikasi Ilmu Fiqh sebagai keunggulannya. Di pesantren itu pula ada seorang santri anggap saja namanya “Fulan”, Si Fulan ini merupakan seorang santri yang menetap 13 tahun bersama Habib Abdullah Bin Umar Asy Syathiri.

Sangat cerdas, kuat hafalannya, tangkas dan rajin hingga dikatakan bahwa ia menjadi santri yang sudah mencapai derajat Mufti saking pintarnya. Ia juga hafal semua mas`alah fiqhiyah yang terdapat dalam kitab Tuhtatul Muhtaj, sebuah kitab yang tebalnya 10 jilid cetakan Darud Dhiya` atau 4 jilid cetakan Darul Kutubil Ilmiyah.

Kesehariannya di pesantren, si Fulan ini disukai oleh teman-temannya sebab ia dibutuhkan oleh rekannya untuk menjelaskan pelajaran yang belum dipahami serta mengajar kitab-kitab lainnya. 13 tahun lamanya menjadi santri Rubath Tarim tentu saja hampir dipastikan kapasitas keilmuannya ia termasuk Ulama besar. Namanya pun tersohor hingga keluar pesantren bahwa ia termasuk calon Ulama besar yang akan muncul berikutnya.

Hingga akhirnya setan mengelabui si fulan, ia pun merasa orang yang paling Alim, bahkan ia merasa kualitas dirinya sejajar dengan kealiman guru besarnya. Tidak cukup sampai disitu, kesombongan itu berlanjut hingga ia berani memanggil gurunya dengan namanya saja; “Ya Abdallah / Hai Abdullah!” Di mata para Ahli ilmu hal ini sungguh ini tindakan yang sangat tercela dan kesombongan yang nyata.
قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ بَاعَطِيَّة الدَّوْعَنِي:
مَنْ نَادَى شَيْخَهُ بِاسْمِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَذُوقَ الْفَقْرَ الْمَعْنَوِيَّ مِنَ الْعِلْمِ
“Barang siapa ya memanggil gurunya dengan sebutan namanya langsung (tidak mengagungkannya ketika memanggil), maka dia tak akan meninggal kecuali sudah merasakan hidup yang fakir baik dalam ilmu maupun material.”
Melihat kesombongan si fulan, Habib Abdullah Asy Syatiri sabar dan memilih diam saja. Syeikh Muhammad Bin Ali Ba’atiyah mengatakan; “Diamnya seorang guru saat muridnya tidak sopan pada gurunya tetap akan mendapatkan Adzab dari Allah s.w.t.”

Kesombongan itupun berlanjut, si fulan pada suatu hari akan keluar dari Rubath Tarim untuk menuju kota Mukalla untuk berdakwah. Ia pun keluar dari pesantren begitu saja tanpa izin pada Habib Abdullah Asy Syatiri, hingga pada saat ‘Madras Ribath’ (sebutan untuk pengajian rutinan di Rubath Tarim), Habib Abdullah menanyakan perihal keberadaan si fulan yang biasanya duduk di depan namun tidak tampak kelihatan, “Kemanakah si fulan?” Sebagian murid yang mengetahui menjawab, “Si Fulan sedang berdakwah ke kota Mukalla.” Habib berkata, “Apakah dia izin kepadaku?” Sontak murid yang lain diam saja. Dan Habib Abdullah kemudian berkata, “Baiklah, kalau begitu biarkan si fulan pergi akan tetapi ilmunya tetap di sini!”

Di sisi lain di kota Mukalla Yaman, para ahli ilmu, tholib ilim dan para pecinta Habib Abdullah Asy Syatiri yang mendengar bahwa si fulan santri senior Rubath Tarim akan mengisi ceramah di Masjid Ba’umar Mukalla Qodim, mereka pun berbondong-bondong datang. Mereka pun mempersilahkan si fulan untuk memberikan ceramahnya.

Si fulan naik ke mimbar dan memulai isi ceramahnya, ia memulai dengan basmalah, hamdalah, sholawat kepada Nabi, amma ba’du. Kemudian ia membaca ayat dalam Surah Adz Dzariyat,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨
dan ingin menjelaskan ayat ini. namun ternyata dia terdiam seperti kayu yang berdiri tegak, dan kebingungan tak mampu menjelaskan ayat tersebut. Hingga dia duduk lima menit, terdiam di hadapan jama’ah. Dia menoleh ke jama'ah dan mereka juga memandang si fulan.

Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika. Bahkan kitab kecil Safinatun Najah tak hafal satu kalimat pun apalagi kitab Tuhfah yang awalnya telah dihafal. Ketika di Ribath bagaikan unta yang sangat bagus nan mahal hargaya karena mempunyai keistimewaan dan kelebihan sendiri. Jama’ah kaget melihat hal itu.

Salah satu ahli ilmu di kota Mukalla, yaitu Habib Abdullah Shodiq Al Habsyi yang pernah mondok mencari ilmu di Rubath Tarim selama 9 tahun, mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si fulan. Kemudian datanglah kabar bahwasanya si fulan telah isa`atul adab (berbuat kurang baik) terhadab gurunya. Beliau pun bertanya pada si fulan.

Setelah mendengar penjelasannya, Beliau menasehati agar ia minta maaf pada sang Guru. Memang sudah dikuasai oleh setan, ia pun enggan untuk tawadhu’ dan minta maaf pada sang Guru.

Hidupnya pun bertambah tragis, ilmunya sudah hilang, tanpa ada keluarga yang mau menerimanya, tanpa teman yang peduli pada nasibnya. Hingga ia hidup dalam keadaan sangat miskin di pinggiran kota Mukalla dan sehari-hari menjadi penjual arang di toko area pasar. Hingga akhir hayatnya ia hidup dalam keadaan miskin bahkan untuk sebuah kafan pun ia tak punya, dan diberi sedekah oleh ahlul khoir yang dermawan. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Dan Habib Abdullah Shodiq Al Habsyi lah salah satu yang mengurusi jenazahnya dan memberi sumbangan kain kafan.

Dari kisah ini mari kita semua perbaiki etika kita kepada guru kita dan kepada siapa pun disekitar kita meskipun kita sudah memiliki ilmu yang banyak. Begitu pula mari kita saling tawadhu’, merendahkan diri dan menjaga dari kesombongan yang bisa menghancurkan diri kita sendiri.

PESAN HIKMAH DARI CERITA DI ATAS


Sayyid Muhammad Bin 'Alawi Al-Maliki berkata,
أَغْضَبُ مِنَ الطَّالِبِ الَّذِي لَا یَحْتَرِمُ أُسْتَاذَهُ وَلَوْ کَانَ الْأُسْتَاذُ صَاحِبَهُ
“Aku murka terhadap penuntut (ilmu) yang tidak menghormati ustadznya, meskipun ustadz tersebut adalah temannya sendiri.”

Imam An-Nawawi berkata,
یَنْبَغِي لِلْمُتَعَلِّمِ أَنْ یَتَوَاضَعَ لِمُعَلِّمِهِ وَیَتَأَدَّبَ مَعَهُ وَإِنْ کَانَ أَصْغَرَ مِنْهُ سِنًّا وَأَقَلَّ شُهْرَةً وَنَسَبًا وَصَلَاحًا ؛ لِتَوَاضُعِهِ یُدْرِكُ الْعِلْمَ
“Seyogyanya bagi seorang pelajar tawadhu’ (rendah hati) kepada gurunya dan menjaga tata krama ketika bersamanya, meskipun gurunya tersebut lebih muda, tidak begitu terkenal, nasabnya lebih rendah dan (mungkin) keshalehannya kalah dengan muridnya. Dengan tawadhu’, niscaya ilmu akan ia dapatkan.”

Imam An-Nawawi juga berkata,
عُقُوقُ الْوَالِدَیْنِ تَمْحُوهُ التَّوْبَةُ وَعُقُوقُ الْأُسْتَاذَیْنِ لَا یَمْحُوهُ شَیْءٌ اَلْبَتَّة
“Dosa durhaka kepada kedua orang tua bisa dihapus dengan bertaubat, sedangkan dosa durhaka kepada guru sedikit pun tidak ada yang dapat menghapusnya.”

Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad berkata,
وَأَضَرُّ شَیْءٍ عَلَی الْمُرِیدِ تَغَیَّرَ قَلْبُ الشَّیْخِ عَلَیْهِ، وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَی إِصْلَاحِهِ بَعْدَ ذَلِكَ مَشَایِخُ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَمْ یَسْتَطِیعُوهُ إِلَّا أَنْ یَرْضَى عَنْهُ شَیْخُهُ
“Yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati guru kepada muridnya (dari yang semula ridha menjadi murka). Andai saja semua guru dari timur dan barat berkumpul untuk memperbaiki keadaan si murid tersebut niscaya mereka tak akan mampu, kecuali gurunya tersebut telah ridha kepadanya.”
Perkataan-perkataan di atas sebagai bahan renungan bagi kita semua yang notabene masih berstatus murid. Jika kebetulan kita sebagai guru, maka jangan sekali-kali kita berharap untuk dihormati.

Semoga kita semua bisa benar-benar berbakti kepada guru-guru kita dan semoga kita mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat.

Wallahu A'lam Bisshawab

Umar Abdul Aziz
Umar Abdul Aziz Hanya seorang Bloger biasa yang fakir ilmu. Alumni Ponpes Ma’had El-Wihdah, dan sekarang mengabdi di Ponpes Markaz Syariah

Posting Komentar untuk "Kisah Tragis Santri yang Hafal Kitab Tuhfatul Muhtaj Jadi Penjual Arang"