Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menag Beri Ucapan Selamat? Inilah 9 Fakta Kesesatan Agama Baha`i

Tempat Ibadah Agama Baha`iyah di India
Gambar 1: Tempat Ibadah Agama Baha`i di India
Baru-baru ini Indonesia dikagetkan dengan seorang Yaqut Qoumas, Menag yang mengucapkan TAHNI`AH (selamat) untuk hari raya Naw-Ruz 178 EB, sebutan bagi hari raya sekte/agama Baha`iyah. Bagaimana bisa selevel mentri agama menyampaikan tahni`ah hari raya bukan Islam? Lalu sebenarnya apa agama Baha`iyah itu? Dan apa saja fakta kesesatan dan kerancuan ajarannya? Mari kita ulik bersama.

1. Bermula dari Ajarannya Mirza Ali Muhammad

Berbicara Agama Baha`iyah, tidak terlepas dari ajaran sebelumnya, yakni Agama Babiyah. Agama ini didirikan oleh Mirza ‘Ali Muhammad, yang mengenalkan dirinya dengan nama al-bab. Menurut keterangan Syeikh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya yang berjudul al-Madzahib at-Tauhidiyah wal-Falsafat al-Mu’ashirah (hlm. 126) menjelaskan istilah al-bab dia pakai sebagai isyarat bahwa hanya dia yang menjadi pintu untuk sampai kepada kehadirat Allah.

Ilustrasi foto Mirza Ali Muhammad
Gambar 2: Ilustrasi foto Mirza Ali Muhammad

Masih dalam kitab yang sama, Syekh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menyebutkan bahwa Mirza ‘Ali Muhammad sempat menjadi muslim, hanya saja kemudian ia membuat agama baru. Keterangannya sebagaimana berikut:

كَانَ هٰذَا الرَّجُلُ فِي بَادِئِ أَمْرِهِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُتَعَبِّدِيْنَ وَكَانَ يَتَمَتَّعُ بِأَخْلَاقٍ فَاضِلَةٍ وَشَمَائِلَ جَذَابَةٍ وَلٰكِنَّهُ مَا لَبِثَ أَنِ اشْتَغَلَ بِتَأْسِيسِ دِينٍ جَدِيدٍ مُخَالِفٍ لِلْإِسْلَامِ وَرَاحَ يَسْتَنْبِطُهُ بِالتَّأْوِيلَاتِ الْبَاطِلَةِ وَالْبَاطِنِيَّةِ مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَانْضَمَّ إِلَيْهِ رِجَالٌ كَانُوا مِنْ أَتْبَاعِهِ وَانْتَشَرَ لَهُ اسْمٌ فِي بِلَادِ فَاِرسٍ وَقَامَتْ مَعَارِكُ بَيْنَ جَمَاعَتِهِ وَحُكُومَةِ طَهَرَان وَاسْتَمَرَّتِ المَعَارِكُ مُدَّةً مِنَ الزَّمَنِ دُونَ أَنْ يَكُونَ لَهَا مِنْ تَأْثِيرٍ فِي الْقَضَاءِ عَلَيْهِ

“Pada mulanya, pria ini (Mirza Ali Muhammad) termasuk muslim yang taat. Konon, ia berbudi pekerti yang baik dan memiliki kelebihan menarik. Akan tetapi, ketika ia mulai sibuk membuat agama baru; yang menyalahi Islam, dan beralih beristinbat dengan ta`wil bathil dan batin dari kitabullah, sehingga bergabung dari mereka yang konon menjadi pengikutnya serta menyebar ke sebuah daerah di Persia, hingga terjadi pertempuran antara jemaah agama Babiyah dengan pemerintah Teheran. Pertempuran terus terjadi seiring waktu, tanpa berimbas kepada jamaah Babiyah.”

2. Cikal-Bakal Penamaan Agama Baha’iyah

Ilustrasi foto Mirza Husein Ali
Gambar 3: Ilustrasi foto Mirza Husein Ali
Mirza Husain Ali, atau yang dikenal oleh pengikutnya dengan nama Baha`ullah diklaim sebagai utusan Allah. Menganggap agama rintisan Mirza Ali Muhammad tidak sempurna, sebelum kemunculan Baha`ullah, sehingga agama tersebut dinisbatkan kepada namanya. Sehingga agama ini beralih nama menjadi Baha`iyah, atau dikenal dengan sebutan agama Baha`i. Syekh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dalam al-Madzahib at-Tauhidiyah wal-Falsafat al-Mu’ashirah (hlm. 127) menyebutkan:

وَلَمَّا ظَهَرَ الْمَدْعُو بَهَاءُ اللهِ الَّذِي نَادَى عَلَى نَفْسِهِ خَلِيْفَةً لِلْبَابِ نُسِبَتْ هٰذِهِ الدِّيَانَةِ إِلَيْهِ فَسُمِّيَتْ بِالْبَهَائِيَّةِ وَأَعْلَنَ أَتْبَاعُهُ بِأَنَّ دِينَ اللهِ لَمْ يُتِمَّ إِلَّا بِظُهُورِ الْبَهَاءِ الَّذِي هُوَ أَحَدُ رُسُلِ اللهِ فِي اعْتِقَادِهِمْ

“Ketika muncul sosok yang diklaim sebagai Baha`ullah ini, yang mana orang ini mengakui dirinya sebagai khalifah al-bab, agama ini dinisbatkan kepadanya. Karena itulah, agama tersebut dinamakan Baha`iyah. Kemudian ia mendoktrin pengikutnya bahwa agama Allah tidak sempurna kecuali selepas kemunculan Baha’ullah, yang mana menurut keyakinan mereka, Baha`ullah merupakan salah satu rasul Allah.”

Dan ulama Islam seluruhnya sepakat atas kafirnya orang yang mengaku nabi setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam, karena itu termasuk mendustakan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Allah Ta'ala berfirman,

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Al-Ahzab: 40]

3. Berpusat di Israel, Hubungan yang Kuat dengan Zionis, serta Memiliki Kitab Suci Tersendiri

Agama Baha’i berpusat di Baha`i World Centre, yang terletak di Haifa, Israel. Di sinilah terbentuk lembaga yang bertindak sebagai kepala dan otoritas tertinggi agama Baha`i.

Hubungan Baha’i dengan Zionis Yahudi sangat kuat, mereka mendapat bantuan-bantuan Zionis Yahudi untuk mengembangkan agamanya, terutama berkaitan dengan kepentingan penjajahan Yahudi terhadap Palestina. [Lihat Khafaaya Al-Bahaaiyyah, hal. 115-119, Al-Baabiyyah wal Bahaaiyyah fil Mizan, hal. 23, Ushul wa Tarikh Al-Firoq Al-Islamiyah, 2/86]

Agama ini juga memiliki kitab suci khusus yang ditulis oleh pendirinya sendiri yang berjudul Kitáb-i-Aqdas.

4. Wahyu Tidak Putus dan Berkelanjutan

Gambaran Keyakinan Agama Baha`i
Gambar 4: Gambaran Keyakinan Agama Baha`i

Agama Baha`iyah meyakini yang mengutus Krisna, Musa, Zoroaster, Gautama Buddha, Yesus Kristus, Muhammad, al-Bab, dan Baha`ullah adalah tuhan yang sama. Mereka semua adalah sama-sama nabi yang mendapat wahyu Allah yang berkelanjutan, hingga lanjut kepada al-Bab dan Baha`ullah. Untuk gambarannya seperti pada Gambar 4.

5. Al-Bab adalah Nabi Paling Agung

Dari keyakinan mereka bahwa wahyu itu terus berkelanjutan, secara otomatis menggunakan al-Bab daripada nabi-nabi yang lain. Karena, menurut mereka, al-Bab adalah penerus dan penyempurna dari nabi sebelumnya. Syekh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dalam al-Madzahib at-Tauhidiyah wal-Falsafat al-Mu’ashirah (hlm. 126) menyebutkan:

وَلَيْسَ(الْبَابُ) إِلَّا مُظَهِّرًا لِاسْتِمْرَارِ الْوَحْيِ وَالرِّسَالَةِ فَهُوَ عِنْدَهُمْ مِنْ أَكْبَرِ الْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ يُؤَكِّدُونَ بِأَنَّ زَمَنَ الْوَحْيِ مُسْتَمِرٌّ وَلَمْ يَنْقَضِ بَعْدَهُ

“Al-Bab tidak lain adalah manifestasi dari penerus wahyu dan kerasulan. Karena itulah al-Bab merupakan nabi teragung yang menegaskan bahwa wahyu itu berkelanjutan dan belum berakhir setelahnya.”

6. Zat Allah adalah Alam Semesta Ini

Sebagian kelompok – termasuk di antaranya keyakinan agama Baha`iyah – beranggapan bahwa wujud Allah tidak lain adalah wujud alam semesta ini. Dalam kitab Kubral-Yaqiniyat al-Kauniyat tertulis:

أَمَّا هٰؤُلَاءِ فَقَدِ انْتَهَى بِهِمْ الْوَهْمُ إِلَى أَنَّ حَقِيْقَةَ اللهِ هِيَ وُجُودُ الْعَالَمِ نَفْسِهِ. فَهٰذِهِ الأَكْوَانِ الَّتِي تَرَاهَا مِنْ حَوْلِكَ هِيَ فِي الْحَقِيقَةِ لَيْسَتْ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ وُجُودِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تَجَسَّدَ فِي هٰذِهِ الصُّوَرِ وَ الْأَشْكَالِ

“Mereka sampai kepada kesimpulan yang amat parah, menganggap bahwa hakikat Allah adalah wujud alam itu sendiri. Keberadaan alam yang kalian lihat ini di sekelilingmu, tidak lebih dari sekadar wujud Allah yang berjasad dengan bentuk tersebut.” 

Syekh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi dalam al-Madzahib at-Tauhidiyah wal-Falsafat al-Mu’ashirah (hlm. 126) menyebutkan:

وَخُلَاصَةُ الْعَقِيدَةِ الَّتِي يَتَمَسَّكُ بِهَا الْبَابِيَّةُ هِيَ: الْقَوْلُ بِأَنَّ مَجْمُوعَ الْكَائِنَاتِ الْمُتَنَوِّعَةِ هُوَ اللهُ ذَاتُهُ

“Ringkasan ideologi agama Babiyah ialah: pandangan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini sejatinya adalah wujud dari zat Allah itu sendiri.”

7. Shalat Cukup Sebulan Sekali

Selain dari sudut pandang ideologinya yang menyimpang jauh, ritual fisiknya pun nampak jelas perbedaannya. Babiyah hanya mewajibkan shalat sekali dalam sebulan. Dalam kitab yang sama, Syekh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menyebutkan:

وَلِلصَّلَاةِ عِنْدَ الْبَابِيَّةِ مَظْهَرُهَا الْخَاصُّ بِهِمْ وَيَكْتَفِي مِنْهَا بِمَرَّةٍ وَاحِدَةٍ فِي كُلِّ شَهْرٍ

“Shalat bagi agama Babiyah memiliki cara tersendiri, serta mencukupkan sekali shalat dalam setiap bulan.”

8. Menjadikan "9" sebagai Angka Keramat

Mengeramatkan angka 19, dan meyakini jumlah bulan dalam setahun 19 bulan, dan jumlah hari dalam setiap bulan 19 hari, sebagaimana pada Gambar 5.

Kalender Badi', kalendernya agama Baha`i
Gambar 5: Kalender Badi', kalendernya agama Baha`i

9. Berpuasa Hanya 19 Hari

Berpuasa pada bulan Bahai saja selama 19 hari, yaitu bulan Al-‘Alaa yang dimulai tanggal 2-21 Maret, dan ini adalah akhir bulan Baha’i menurut mereka, wajib puasa dimulai dari terbitnya matahari sampai terbenam, kemudian masuk bulan berikutnya mereka merayakan hari raya Nairuz (hari raya penyembah api Persia kuno).

Itulah beberapa fakta kesesatan ajaran dan kerancuan ideologi agama Baha`iyah ini. Semoga Allah Swt. senantiasa menjaga Iman dan Islam kita, hingga akhir hayat. Hidup dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah, wafat dengan membawa kalimat Laa Ilaa Illallaah.

Wallahu A’lam Bisshawab...

Umar Abdul Aziz
Umar Abdul Aziz Hanya seorang Bloger biasa yang fakir ilmu. Alumni Ponpes Ma’had El-Wihdah, dan sekarang mengabdi di Ponpes Markaz Syariah

Posting Komentar untuk "Menag Beri Ucapan Selamat? Inilah 9 Fakta Kesesatan Agama Baha`i"